close

[Movie Review] Istirahatlah Kata-Kata

IstirahatlahKataKata-Poster

 

Sutradara:           Yosep Anggi Noen

Pemain:               Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Eduward Boang Manalu, Dhafi Yunan

 

Wiji Thukul adalah mitos, martir, legenda, pahlawan, tumpahkan semua julukan, ia tetap jadi sosok misterius yang tidak bisa diraba langsung oleh generasi sekarang. Namanya boleh jadi terkenal, menghiasi linimasa media sosial tiap hari buruh, slogannya tertempel di kaos-kaos perjuangan. Hanya ada satu kata: lawan—digunakan banyak golongan. Namun perjumpaan kilat itu seringkali mengabaikan sisi kemanusiaan Thukul, kata-katanya, semangatnya, dipakai sepotong-sepotong, sementara kepayahannya di saat-saat genting seakan lupa disentuh massa.

Istirahatlah Kata-Kata mengambil periode ketika Wiji Thukul masuk dalam daftar cari militer selepas kerusuhan 27 Juli 1996. Setelah lama berjibaku dengan arogannya tentara dan popor bedilnya, Wiji Thukul akhirnya dijadikan tersangka dan diburu keberadaannya. Rasa terasing, takut, gelisah, mestinya dirasakan penyair ini, dan Yosep Anggi Noen mampu membahasakannya dengan cemerlang. Anggi Noen selaku sutradara dan penulis skrip menegaskan bahwa ini adalah film fiksi, karya ini adalah persepsinya mengenai sosok Wiji Thukul. Tampaknya Anggi Noen tidak ingin memfosilkan Wiji Thukul dalam bentuk dokumen digital, ia justru ingin menghidupkan sosok legendaris itu dan memantik wacana yang bakal muncul seiring dengan interpretasinya atas Wiji Thukul.

Di balik niat baik mengenalkan sosok Wiji Thukul pada generasi sekarang, Istirahatlah Kata-Kata masih lebih memanjakan para pembaca puisi Thukul ketimbang penonton yang hadir dengan pengalaman nol besar atas puisi-puisinya. Istirahatlah Kata-Kata bak pesta privat yang intim bagi pembaca puisi Wiji Thukul. Harus diakui, ini memang bukan film untuk semua orang. Meski begitu, itu bukanlah fakta yang buruk, kenyataan bahwa Anggi Noen mampu menjahit interpretasinya atas Wiji Thukul dan menyusunnya jadi semesta yang mungkin saja benar-benar dialami Thukul yang asli, patut mendapatkan sanjungan model manapun.

Umumnya, biopik atau kisah tokoh-tokoh besar disajikan lewat peragaan laku inspirasional yang mengultuskan si protagonis, Istirahatlah Kata-Kata berdiri sebagai negasi film biopik kebanyakan. Tergolong sunyi untuk film yang menceritakan seorang pembangkang. Bukan Anggi Noen kalau tidak bermain dengan metafora dan manipulasi adegan. Makanya, menonton film ini nampaknya susah-susah-gampang buat kalangan yang awam Thukul dan karya puisinya. Di balik kesunyian yang ditampilkan, film ini menyimpan emosi meledak-ledak bagi mereka yang tersentuh oleh rangkaian kata-kata sosok Wiji Thukul. Lihat saja adegan manakala Thukul pergi membeli baju bekas. Buat penulis pribadi, itu saat di mana buliran air mata mulai lengser deras-deras. Saat pengasingannya di Pontianak, puisi “Baju Bekas” lahir di tengah kerinduannya pada istri di rumah.

Gunawan Maryanto adalah aktor yang baik. Ia tidak banyak kebagian porsi bicara apalagi sempat mengepalkan tangan di puluhan ribu demostran, namun bisa membius penonton sampai percaya bahwa yang di berlaga di layar benar-benar orang yang bingung, ketakutan, putus asa, dan marah pula. Spektrum emosi yang ditampilkan Gunawan memang lamat-lamat, tapi luar biasa menyayat. Kerja sama Anggi Noen, Gunawan Maryanto, dibingkai oleh sorot piawai Bayu Prihantoro Filemon sungguh patut dirayakan, ketiganya mampu mencipta adegan sesederhana ritual potong rambut menjadi begitu ngerinya. Kewenangan dan sewenangan militer kala itu ditampilkan dengan cara yang paling tidak biasa—tentunya rawan dilewatkan apabila kurang awas. Kiranya kehalusan cara bertutur Anggi Noen dalam menyisipkan kritik dan ketegangan masa itu membuat Istirahatlah Kata-Kata kebal gunting sensor.

Penjabaran mengenai kuatnya cengkeram militer pada rezim Orde Baru selain gamblang dilihat dari upaya Thukul lari, juga divisualkan lewat adegan-adegan implisit yang kesannya apolitis. Kehadiran Udin, tentara gadungan yang kurang waras dapat dicerna sebagai bentuk olok-olok atas manusia berseragam loreng yang menjadi robot saja, “saya punya pistol,” ngomong begitu terus kerjanya. Tingkah Udin ketika latihan sit-up di dermaga nampaknya juga bisa dicerna sebagai alegori tentang kekejaman militer pada para aktivis kala itu. Masa-masa menjelang Sidang Umum MPR 1998 keadaan memang menggawat, banyak aktivis yang mulai diciduk aparat. Banyak diantaranya mengaku disiksa selama interogasi—adegan sit-up Udin sambil diguyur air ke atas kepalanya menyerupai praktek waterboarding yang mahsyur bengisnya. Ditambah lagi deretan nama aktivis (entah rekaan atau nyata) yang diciduk diucap jadi latar adegan tersebut, adalah kebetulan yang cerdas. Sekaligus pengingat juga, bahwa apa yang dinikmati sekarang adalah buah dari kerja keras serta darah banyak orang. Ada adegan main bulu tangkis yang juga dibuat mencekam, olahraga yang lumrahnya disoraki gegap gempita, justru irama ritmis aktivitas mengoper kok yang muncul mengiringi cerita Thukul tentang mimpi dikepung tentara.

Selain diwujudkan dalam laku adegan, puisi-puisi Wiji Thukul dirapalkan sebagai voice-over dengan ciamiknya. Paling dahsyat ada pada peristiwa tatkala Thukul difoto untuk kepentingan buat KTP, pertanyaan si fotografer perihal luka di bawah mata disandingkan dengan dentuman musik arahan Yennu Ariendra yang merangsek masuk bersama deklamasi puisi soal demonstrasi di pabrik tekstil. Magis.

Selain Gunawan Maryanto, tokoh lain yang sentral dalam film tidak lain dan tidak bukan ialah Marissa Anita. Sempat ada slentingan sebelum film rilis kalau pemeran Sipon kok terlalu cantik, terbalas tuntas lewat akting tak main-main wanita yang luas dikenal sebagai news anchor ini. Benar kata Anggi Noen, Marissa Anita mampu menyingkap potensinya menjadi seorang istri yang menanggung pilu hati dan kehilangan, sekaligus sebagai figur ibu yang kuat dan penyayang. Sepertiga terakhir film menyoroti relasi romantis Thukul dan Sipon, tentu jangan bayangkan adegan riang nan picisan. Aroma wangi buket bunga mawar yang biasa jadi lambang romansa digantikan oleh bau tai dan cekikikan tulus dua tokoh ini. Betapa sang sutradara mampu menghadirkan kasih dan cinta di antara keduanya tanpa harus pakai ungkapan yang indah-indah. Meski begitu, Sipon dan Thukul sama-sama menanggung beban, walaupun pada akhir film sejoli ini dipertemukan. Thukul dengan perjuangannya, serta Sipon dengan pergolakan batin dan tekanan sosial di sekelilingnya. Tekanan yang sama-sama mereka tanggung mampu diselesaikan film ini dengan sungguh apik, sangat tenang, namun menikam penonton diam-diam. Thukul yang tak kembali direspon Sipon dengan santai saja menyapu sambil sedikit-sedikit terisak adalah resolusi yang tepat guna–gambaran bahwa setelah suaminya menghilang, ada hidup yang mesti dilanjutkan, meski terseok.

Seni, dalam hal ini puisi Wiji Thukul dan Istirahatlah Kata-Kata sebagai karya sinematik, adalah bahasa universal untuk menyatukan pengalaman penontonnya selaku seorang manusia. Koneksi ini membentuk makna, dan makna inilah yang nantinya menyusun jati diri–khususnya pada kemampuan unik tiap manusia untuk menginterpretasikan dan menemukan nilai dalam setiap peristiwa. Puisi dan film tersebut adalah panjang tangan untuk membantu audiens memahami apa yang sebenarnya terjadi pada kemanusiaan dewasa ini. Bagaimana pertarungan abadi antara yang baik dan buruk selalu lebih kompleks, bukan sesederhana membedakan mana yang hitam dan yang putih. Dan kadang, kemenangan sebuah perjuangan mesti ditebus dengan harga yang kelewat tinggi.

Puisi Wiji Thukul sepatutnya dibaca, begitu pula kisahnya, tidak ada alasan untuk mengurangi nilai film ini hanya karena kurang familiar dengan tokohnya. Masih ada barang sebulan lagi–sebelum film ini ditayangkan serentak di bioskop 19 Januari tahun depan–untuk mulai membaca karya Wiji Thukul, menyelami perjuangan tiap manusia yang ia ungkap lewat tajam kata-katanya. Ini film penting bagi kemanusian dan ketidakacuhan kita yang semakin genting. [WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.