close

[Movie Review] Short Term 12

short-term-12

Sutradara        : Destin Daniel Cretton

Cast                  : Brie Larson, John Gallagher Jr, Rami Malek, Kaitlyn Dever, Keith Stanfield

Durasi              : 96 menit

Studio              : Animal Kingdom Traction Media (2013)

[yasr_overall_rating size=”small”]

short-term-12

Setelah puas mengapresiasi akting Brie Larson dalam Room (2015), tampaknya perlu mundur 3 tahun lagi buat menyaksikan performa brilian lainnya di Short Term 12 (2013) garapan Destin Daniel Cretton. Ini adalah film panjang kedua Destin setelah sebelumnya fokus mengerjakan film-film pendek non-arusutama. Short Term 12 sendiri mulanya berwujud film pendek yang dapat slot pemutaran perdana di Sundance Festival 2009. Setelah kurang lebih 3 tahun menghimpun sponsor dan dana, ia memproduksi versi panjangnya.

Film ini mengambil latar sebuah rumah asuh, penuh dengan anak-anak bermasalah yang entah dianggap berbahaya atau memang tidak ada yang sudi lagi merawat. Mereka ditampung oleh yayasan pemerintah hingga kelak menginjak usia 18 tahun dan harus keluar ke dunia nyata. Pembangunan karakter dan kasting yang tidak mendramatisir menjadikan pengalaman menonton film ini layaknya menyaksikan karya dokumenter. Kemampuan Destin memproyeksikan situasi iba dan frustrasi tanpa pretensi memang didapatnya ketika tengah bekerja di rumah grup residensial bagi remaja rentan delinkuensi.

Lewat Short Term 12, audiens dipandu untuk memahami keseharian anak-anak yang rapuh secara psikologis melalui kacamata Grace (Brie Larson), seorang staf yang punya tanggungjawab mengurusi mereka. Memang benar kalau katanya kita perlu berjalan menggunakan sepatu seseorang untuk bisa memahami dan tahu cara yang tepat memperlakukannya. Grace dan Mason (John Gallagher Jr.)—pacar yang juga rekan kerjanya—pun pernah menghabiskan masa remaja di tempat yang sama. Keluwesan mereka menangani anak-anak ini sangat kontras dengan sikap kaku Nate (Rami Malek), seorang intern yang sempat kena semprot remaja negro karena menyebut mereka sebagai ‘anak-anak underpriviledge’.

Short Term 12 adalah karya penting yang tersembunyi. Sebagai sebuah drama yang punya potensi jadi mesin pengucur air mata, ia justru menggunakan pendekatan lain yang terasa subtil namun tetap menorehkan bekas pada ruang rasa yang belum dapat terdefinisi. Bukan kasihan, bukan pula optimis, bahagia apa lagi, dengan menonton sendiri mungkin Anda bisa sepakat membikin satu penemuan kata sifat baru. Film ini bisa dibilang sebuah medium untuk memahami relasi manusia yang tak kepalang misteriusnya, di samping trauma dan luka masa lampau, akan selalu masih ada celah menuju koneksi yang hanya bisa dibangun melalui empati dan rasa saling percaya.

Relasi yang dimaksud tersampaikan melalui interaksi Grace dengan Jayden (Kaitlyn Dever). Sama-sama melampiaskan perlakuan buruk ayahnya lewat aksi sayat-menyayat diri sendiri, Grace melihat Jayden sebagai objek penebusan atas trauma yang bahkan belum bisa diungkapkan pada psikiaternya sendiri. Benar, keberhasilannya ‘menyelamatkan’ Jayden, lantas mampu jadi penyempurna hidup yang sebelumnya tidak pernah lepas dari bayang-bayang catatan kriminal sang ayah pada dirinya. Menariknya, resolusi Short Term 12 tidak semudah itu pasrah mengukuhkan diri sebagai film dengan akhir kisah bahagia.

Lebih dari itu, film ini berakhir manis ditutup dengan sekuens adegan yang sama dengan pembukanya. Ketika Mason berusaha melucu dengan ceritanya namun terpotong oleh salah seorang anak yang lari histeris menuju gerbang keluar. Bedanya, anak kurus berkaus kutang itu mengikatkan bendera Amerika ke leher ala Superman dan berlari sambil tersenyum, menikmatinya, seperti anak-anak dengan hidup normal lainnya yang gemar main kejar-kejaran. [WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.