close

[Movie Review] The VVitch

The VVitch
The VVitch

Director: Robert Eggers

Cast: Anya Taylor-Joy, Kate Dickie, Ralph Ineson, Harvey Scrimshaw

Durasi: 93 menit

Studio: A24 Films (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Harus diakui kalau film macam Insidious atau The Conjuring memang sukses membuat beberapa orang berpikir dua kali untuk ke kamar mandi tengah malam. Tapi yang jelas, haram hukumnya untuk membuat generalisasi ranah film horror hanya dengan beberapa film padat jump scare khas Blumhouse Pictures. Salah pula untuk mengabaikan film horror lantaran tidak suka melihat beberapa karakternya asal dibacok sadis atau dirasuki arwah jahat. Justru itu merupakan sedikit contoh dari sekian banyaknya kenikmatan yang cuma bisa didapatkan dari menonton film horror.

Alternatif lain tentu tersedia, yaitu mencobanya secara langsung. Sayang beribu sayang, terakhir kali saya cek, asal membacok orang dan meneror mentalnya untuk melihat ekspresi murni kengerian masih terhitung sebagai tindakan ilegal. Memang itulah kenyataan yang harus diterima dengan sesal dan sedih. Apa daya, kita hidup di kenyataan yang begitu membosankan dengan segala norma dan moralitasnya. Beruntunglah masih ada film seperti The VVitch (dibaca “The Witch,” tapi sesuai dengan posternya, “The VVitch” lebih menekankan atmosfer ganjil yang terasa kuat sepanjang filmnya).

Sebagaimana film horror berkelas lainnya, The VVitch merupakan ajang uji nyali bagi sebagian orang, dan ajang uji kesehatan mental untuk sebagian lainnya. Ekspektasi tinggi telah terbangun sejak rilis perdananya di Sundance Film Festival tahun lalu. Kini setelah berkesempatan untuk menontonnya sekali duduk di depan laptop, lega rasanya untuk bisa mengatakan kalau seluruh ekspektasi itu terbayar lunas. Termasuk bunganya yang telah tertunggak selama satu tahun lebih.

Hidup tak berjalan mulus bagi William, Katherine, dan kelima anaknya; Thomasin, Caleb, pasangan kembar Marcy dan Jacob, serta Samuel yang baru lahir. Mereka adalah satu keluarga puritan abad ke-17 yang dibuang dari desanya karena sebuah tindakan tercela yang bersangkutan dengan agama. Setidaknya begitu yang bisa disampaikan dengan halus.

Pinggiran hutan yang mereka jadikan sebagai tanah hijrah juga tidak memberi apa-apa. Tidak ada tanaman yang bisa dipanen, sementara mencari hewan buruan adalah usaha yang hampir sia-sia. Hanya ada pepohonan tak berdaun, udara dingin yang jauh dari kata nyaman, dan biang dari segala teror, yaitu kemiskinan. Ada pula sekelompok penyihir yang tinggal jauh di dalam hutan, sesuai judulnya.

Sengsara semakin menumpuk saat Samuel hilang secara misterius di tengah hutan. Kejadian tersebut praktis membuat Katherine kehilangan sebagian kewarasan. William pun hanya bisa menyalurkan amarahnya dengan memotong kayu. Di satu scene, Thomasin berdoa meminta maaf lantaran pernah bermain di hari suci. Caleb, adiknya, juga tidak lepas dari rasa berdosa ketika sesekali mengintip buah dada kakaknya.

Ketika giliran Caleb yang menjadi sumber penderitaan mereka selanjutnya, tidak banyak lagi yang bisa mereka lakukan. Doa dan kuotasi alkitab yang terus dilafalkan tidak lagi cukup untuk membersihkan jiwa mereka dari dosa. Ketakutan berlebihan terhadap dosa itu sendiri yang semakin merapuhkan iman. Mengundang berbagai macam maksiat untuk muncul sebagai balasan dari tuhan.

Seperti beberapa hikayat penyihir lainnya, ada sedikit alegori tentang perjalanan Thomasin menjadi seorang wanita dewasa. Tapi dalam sebuah film yang menampilkan adegan seorang penyihir membuat rujak bayi di bagian awalnya, sangat mudah untuk melupakan subteks tersebut. Kita dibuat terlalu sibuk untuk mengamati perjalanan kelam setiap karakternya menuju kemangkatan.

Adegan merujak bayi bukanlah satu-satunya bagian yang mungkin ingin anda lupakan dari The VVitch. Semakin jauh dalam durasi film, anda akan menemukan banyak adegan yang tidak ditujukan pada orang sembarangan. Tapi tenang, Robert Eggers cukup toleran untuk tidak mengeksploitasinya hingga ke ranah gore. Tidak banyak darah atau nanah yang ditunjukkan dalam setiap bingkainya. Robert Eggers membiarkan anda untuk membayangkannya sendiri.

Ia hanya memberi sebuah ruang yang cukup untuk mengundang imajinasi terburuk anda ke dalam The VVitch. Ruang itu diisi musik jahat garapan Mark Korven, berpadu tepat dengan bentangan spektral hutan yang jarang disambangi matahari. Subjudul “A New England Folktale” agaknya kurang tepat mengingat nihilnya pesan moral yang pantas disampaikan turun temurun. The VVitch adalah sebuah mimpi buruk tanpa akhir, menggerogoti emosi hingga tidak tersisa lagi pikiran untuk berusaha bangun darinya.

Anda yang akrab dengan serial TV Game of Thrones tentunya ingat dengan Lysa Arryn, karakter yang diperankan Kate Dickie. Di salah satu episode, Lysa Arryn terlihat masih menyusui Robin, putranya yang sudah berumur 10 tahun. Dalam standard tertentu, wajar jika hal itu dinilai sakit jiwa. Tapi dibanding aktingnya di The VVitch, menyusui Robin Arryn akan terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Bukan sekedar masalah dia menyusui siapa, atau apa. Tapi Kate Dickie memang memainkan karakter Katherine tanpa tanggung. Ralph Ineson dengan suaranya yang geram menggelegar juga membuat kehadirannya sulit untuk dilupakan.

Thomasin sebagai elemen vital dari keseluruhan plot juga dimainkan dengan cakap oleh Anya Taylor-Joy. Ia memberi paduan yang tepat antara gadis polos tanpa pernah kehilangan potensi untuk menjadi tokoh yang mengancam. Tapi raut mukanya tidak sesadis penyihir yang hadir menemui Caleb di tengah cerita. Tidak perlu memberi banyak detail tentang interaksi antara keduanya.

Harvey Scrimshaw sebagai Caleb sendiri sukses mencuri perhatian di satu adegan pamungkasnya. Pengakuan cintanya terhadap tuhan yang penuh nafsu dan gairah benar-benar dieksekusi dengan sempurna. Siapa yang bisa menyangka seorang bocah bisa memberikan akting sekuat itu?

Sejatinya tidak perlu ratusan kata untuk mengapresiasi setiap detik The VVitch. Anda tahu kalau film ini bagus ketika masing-masing perwakilan gereja dan Satanist Temple sepakat untuk mengikrarkan dukungannya terhadap The VVitch. Betapa indahnya ketika sebuah film sebejat The VVitch bisa menyatukan dua opini yang berseberangan. Mungkin terlalu dini, namun jika ada yang bertanya tentang beberapa film horror terbaik sepanjang masa, The VVitch pasti akan terlintas sebagai salah satu jawaban.

Mengandalkan piuh ketimbang riuh, debut Robert Eggers memberikan tontonan berkualitas penuh horror keji yang tanpa henti menginduksi paranoia. Anda tidak butuh berkali-kali mengelus dada ketika menonton film ini. The VVitch tidak akan membuat jantung anda berdebar tak terkendali. Tapi tetap disarankan untuk menonton film ini setidaknya dengan seorang teman yang paham untuk melakukan CPR. Karena tidak jarang The VVitch akan membuat jantung anda lupa berdetak. [WARN!NG/ Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.