close

Music Gallery 7th: Menyambut Era Baru Gejolak Indie Muda-Mudi

12. Bedchamber

Review overview

WARN!NG Level 8.2

Summary

8.2 Score

Bedchamber

Apa jadinya apabila para jagoan pendatang baru berkumpul dalam satu tempat di waktu yang bersamaan?

Sebagai institusi yang menaungi calon ekonom pembangunan bangsa, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia nyatanya tak melulu menjejali isi kepala para peserta didiknya dengan angka, data, maupun statistika makro juga mikro. Kebebasan beraktifitas sepenuhnya disediakan agar tak sebatas duduk terpaku dalam bangku perkuliahan yang mengapungkan formalitas semu bahkan cenderung mengencangkan kepenatan. Maka jadilah penyelenggaraan berbagai acara musik yang disinyalir mampu mengapungkan solusi atas kebuntuan akademik di samping ajang unjuk gigi status almamater.

Selain dikenal dengan tempat lahirnya Jazz Goes To Campus yang melegenda selama hampir empat dasawarsa, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia—lewat BSO Band (semacam komunitas musik internal)—juga menelurkan satu event bertajuk Music Gallery. Apabila Jazz Goes To Campus mengutamakan segmentasi jazz dalam tema pelaksanaannya (meski di beberapa seri terakhir standar idealisme agak diturunkan dengan masuknya genre non-jazz dan artis one-hit-wonder), Music Gallery bisa dibilang merangkul skena yang lebih independen.

Kendati baru mencapai usia di angka tujuh, Music Gallery berupaya keras untuk tak sekedar aji mumpung mencari ketenaran yang bersifat sementara. Kalau tak luput memprediksi, Music Gallery nampaknya ingin dikenal dan dikenang dengan reputasi bak We The Fest yang berdiri pada pucuk popularitas kelas metropolitan. Totalitas merupakan kata kunci demi mendapatkan gelontoran uang sponsor yang sebetulnya mudah didapatkan penilaian yang positif dari khalayak ramai. Hal tersebut dibuktikan melalui instuisi yang tajam tatkala mereka mulai mendatangkan Tahiti 80, Last Dinosaur, serta Panama dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Mengepul massa, menjaga gengsi.

Gebyar kemeriahan Music Gallery sudah tercium sejak kuartal ketiga tahun 2016. Spekulasi meluncur deras tentang siapa yang bakal mengisi slot penampil utama. Hingga tiba momentum di mana HONNE diproklamirkan selaku produk unggulan Music Gallery 2017. Di saat demam electro-pop sedang mewabah, mereka menangkap peluang pasar dengan jitu. Suatu strategi cerdas yang berdampak pada terjualnya tiket secara cepat serta tingginya rasio permintaan.

Bagaimanapun juga, Music Gallery tak bisa dilepaskan dari deretan penampil lokal yang memiliki kapabilitas baik. Barasuara, Danilla, Efek Rumah Kaca, Naif, Ramayana Soul, SORE, The Adams, The SIGIT, sampai White Shoes and The Couples Company merupakan contoh konkrit deretan musisi independen yang pernah memanaskan mimbar perjumpaan. Sedangkan tahun ini nama-nama seperti Ballads of the Cliché, Bedchamber, Bin Idris, Goodnight Electric, Polka Wars, The Trees and The Wild, Seringai, hingga Stars and Rabbit dipilih dengan harapan menyeret angin kesegaran indies Jakarta.

 

Peonies

Mengambil lokasi di Kuningan City, Music Gallery menyediakan sepasang panggung yang terbagi atas Main Stage dan Intimate Stage. Untuk area Main Stage berada di dalam ballroom dengan luas cukup representatif serta dekorasi yang minimalis. Lalu, Intimate Stage dibangun tanpa sekat maupun barikade di landasan parkir mobil dengan panorama gedung pencakar langit yang dapat disaksikan kesyahduannya sembari memantau para hipster di tengah kerumunan.

Selayaknya gelaran festival musik lainnya yang melibatkan banyak peserta, Music Gallery juga dihadapkan pada tantangan untuk membagi dua stage dengan proporsional. Terkadang banyak yang menepikan faktor ini sehingga berdampak timpangnya antusiasme penonton. Sangat disayangkan jika deretan pengisi acara sudah lolos uji kelayakan namun tidak diimbangi dengan pemilahan yang komprehensif. Beruntungnya, pihak panitia Music Gallery tak terjebak dalam cekungan masalah seperti itu.

Di area Intimate Stage, deretan pemirsa belum terlihat ramai saat Gizpel memacu konsol aransemennya. Unit asuhan Kolibri Rekords tersebut mengusung semangat dream-pop dengan sedikit sentuhan fidelitas bit-8 laiknya soundtrack Mario Bros yang dimodifikasi penuh perhitungan. Kocokan gitar Dimas yang renyah, hentakan drum Dika yang statis, juga dentuman bas Ananto yang tenang menjadi ciri khas utama kala “Zittau”, “Rainbow Cake”, ataupun “Juvenile” dibawakan. Tak lama kemudian, kolektif city-pop asal Bandung, Ikkubaru meneruskan estafet keriaan yang dipelopori Gizpel. Rasanya menyenangkan tatkala menyaksikan langsung band yang cukup terkenal di negeri Sakura ini untuk kali pertama. Lagu-lagu yang kental nuansa Japaneese dari Amusement Park semacam “Heart House”, “Overtune to Heaven”, serta “Evening Without You” meninggalkan kesan tak terlupakan.

Music Gallery menjadi panggung nostalgia bagi veteran indie-pop Jakarta, Ballads of the Cliché. Selepas terakhir membuat album di tahun 2007, sembilan tahun berselang album baru mereka muncul ke permukaan dengan tajuk Paintings. Malam itu Bobby, Ferry, Rheinhard, dan Zennis menyuguhkannya dengan seksama kepada para hadirin. Aroma Belle and Sebastian terdengar penuh kuasa terlebih saat “Home” yang didapuk jadi single nomor satu dikumandangkan. Tak hanya Ballads of the Cliché yang mendapatkan sambutan hangat seolah waktu memisahkannya begitu lama, kuintet bossanva/pop-jazz Hollywood Nobody juga turut memancarkan kerinduan. Menyanyikan track klasik seperti “Into Hate” dan “Theories”, mereka meramaikan altar dengan mengharu biru. Materi dari Everythings Happens for A Reason menandakan simbol pengucapan; menelusuri kenangan, melengkapi Sabtu bersama pasangan.

Bin Idris

Kebisingan Intimate Stage kian memuncak ketika tiga penampil berikutnya menancapkan perayaan yang tertunda. Dimulai dengan Polka Wars yang meluncurkan roket Axis Mundi secara paripurna; menghidupkan atmosfer sci-fi lewat “This Providence”, “Lovers”, sampai “Tall Stories”. Lantai dansa tambah memanas saat Goodnight Electric yang digawangi Bondy Goodboy, Henry Foundation, dan Oomleo memercikan deru electro bercampur sengat new wave. Alhasil, “Am I Robot?”, “Rocket Ship Goes By”, maupun “Laser Gun Electro Boy” sukses meningkatkan kegairahan. Seringai menutup perjumpaan tanpa tedeng aling-aling. Walaupun fokus (sebagian) penonton terbelah akibat keramaian HONNE di panggung utama, para Serigala Militia sama sekali tak mengedurkan serangan circle-pit menggelegar kala Arian berteriak “Individu Merdeka” atau pukulan Khemod yang membakar “Program Party Seringai”.

Di lain sisi, kehebohan Main Stage sudah terasa sedari awal. Penetapan Peonies dan Bedchamber di permulaan ibarat menyantap hidangan dengan racikan tepat. Harmoni surf yang cerah menaikan mood seketika, lantas dimabukan efek shoegaze secara halus sembari memegang sebatang kretek di tangan. Menyapa “Summer” dan “Wednesday” lalu menyalami erat “Petals” serta “Myth” yang memberatkan. The Trees and The Wild merupakan aksi yang wajib disaksikan. Bersama tatanan panggung yang diatur sesuai kaidah baku, keintiman tercipta memenuhi seisi ruangan; raungan noise, post, dan tarikan suara Charita yang menyelipkan misteri. Tak pernah merasa jenuh mendengarkan “Empati Tamako” dan “Saija” kendati tak mengalami banyak gubahan.

Setelah digeber konstelasi ritme kencang, Main Stage perlahan hanyut dalam petikan gitar dari pentolan Sigmun yang tampil membawa identitas Bin Idris. Intonasi vokalnya memecah koor massal yang meleburkan sanubari. Sepintas seperti menyaksikan Bimbo dengan Haikal Azizi yang mengiringinya di samping seraya menafsirkan “Jalan Bebas Hambatan”, “Rebahan”, maupun “Temaram” di tengah kesunyian. Duo asal Yogyakarta yang baru saja menyambangi Laneway Festival, Stars and Rabbit kembali menaikan atensi para penonton. Menggunakan format full-band, Adi Widodo dan Elda Suryani menyuguhkan performa maksimal. Pesona Elda berpendar cahaya kala “Man Upon the Hill”, “The House”, sampai “You Were Universe” diteriakan. Lagu yang bagus memang mampu menyatukan banyak kepingan.

 

HONNE

 

Memasuki babak pamungkas, keriuhan Main Stage semakin tak terkendali. Barisan penonton berjejalan, berupaya merengsek ke depan demi menyaksikan dari dekat wajah rupawan nan mempesona Andy Clutterbuck dan James Hatcher. Histeria menjadi barang wajib yang dilontarkan; menandakan ketidaksabaran bertemu sang idola. Sampai akhirnya, HONNE bisa dikata sukses menyulap perjumpaan pertama dengan takjub. Membawakan komposisi, di antaranya, “Someone That Loves”, “Warm On A Cold Night”, hingga “Good Together”, mereka menyemarakan malam milik muda-mudi Jakarta terasa lengkap.

Menilai keberhasilan Music Gallery sejatinya tak perlu perumusan yang kelewat kompleks. Caranya sederhana, lihat bagaimana dari tahun ke tahun mereka berupaya menyediakan sajian yang bervariasi namun tetap terjangkau kantong ekonomi. Menyeimbangkan faktor kualitas dan tentu saja kuantitas yang tidak ditimbang dengan asal-asalan. Kombinasi antara tingginya selera serta antusiasme independen masih terlihat relevan di mata penikmat. Pun persoalan mengundang bintang dari luar nyatanya memutus rantai kebosanan yang berkutat pada stagnansi itu-itu saja. Semoga kesimpulan yang saya ambil tidak terlalu sementara bahwa rasanya masih butuh waktu lama untuk memalingkan muka dari helatan Music Gallery, setidaknya dalam jangka tiga tahun ke depan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

 

Event by: BSO Band Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Date: Sabtu, 11 Maret 2017

Venue: Kuningan City, Jakarta

Watchful shot: Keriaan Peonies-Bedchamber di awal perjumpaan, kesyahduan Bin Idris, kemeriahan lantai dansa Goodnight Electric, dan crowdsurfing para Serigala Militia

Photos: Rahmat Syah

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.