close

NDX Aka Familia: Sundul Hip Hop Dangdut Ke Puncaknya

NDX (32)

“Nanti tunggu di toko bentar ya, aku masih garap lagu baru” balas Nanda di kotak pesan. Siang itu WARN!NG sedang dalam perjalanan menuju Imogiri, daerah asal NDX Aka Familia. Kami berjanji bertemu di toko merchandise resmi NDX di samping Jembatan Siluk. Membawakan tema-tema cinta, sahabat dan pengkhianatan dalam balutan musik hip hop dangdut, NDX Aka Familia yang digawangi oleh Yonanda Frisna Damara (Nanda) dan Fajar Ari (PJR MC) meroket tak terkendali.  Sampai disana, kami bertemu dengan seorang perempuan muda yang tengah sibuk memilih-milih baju. “Lagu-lagu NDX itu mewakili perasaanku banget,” ujar Novia setelah kami tanyai alasannya mengidolakan NDX. Jawaban itu mungkin mewakili ribuan fans NDX yang lain di berbagai kota. Disana kami juga bertemu dengan Andre, siswa kelas 6 SD dari Kotagede yang diantar kedua orang tuanya untuk membeli jaket resmi NDX disana. “Temen-temen di sekolah semua suka sama NDX,” ujarnya malu-malu.

Beberapa menit kami menunggu, suara gerung motor mendekati toko. Dua buah motor ninja memasuki area parkir: merah milik Nanda, hijau milik PJR. Dihadapkan pada pemandangan seperti itu, seketika di kepala saya terngiang lirik ikonik mereka “jare nek ra ninja ra oleh dicinta…” dan berujung tawa kecil yang tak tertahankan. Dendam kesumat, kau tahu, baiknya ditulis jadi lirik lagu dulu, baru dilunasi kemudian. “Maaf ya lama, kami sedang bikin lagu untuk duet dengan Soimah,” ujar Nanda sambil mempersilahkan kami masuk. Selain belanja merchandise, jika beruntung Familia –sebutan untuk fans NDX bisa menemui mereka untuk befoto atau ngobrol di toko bercat biru toska tersebut. “Orang kalau beli baju disini, kalau belum foto sama kami nggak mau pulang,” ujarnya Nanda.

Dibentuk ketika mereka kelas 3 SMP yaitu tahun 2011 lalu, duo Nanda dan PJR MC ini populer di berbagai kalangan. Judul-judul seperti “Sayang”, “Bojoku Digondol Bojone” dan “Kimcil Kepolen” dimainkan di berbagai sudut kota. Ketika mereka tampil, fans dangdut berjeans ketat sampai kaum metal garis keras berbaju Motorhead melebur di lantai dansa. Mereka menaklukkan kota-kota kecil seperti Temanggung, Tuban, Bojonegoro, Purwakarta, Tulungagung tapi juga mengokupasi perhatian khalayak di Yogya sendiri. Kabarnya malam ketika NDX tampil di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY 2016) lalu memecahkan rekor jadi FKY teramai yang pernah ada. Konser NDX di Jepara pada 1 Januari lalu dihadiri oleh 20.000 penonton, memakan korban satu orang meninggal akibat ricuh. Tak bisa dipungkiri, nama NDX di poster seolah jadi jaminan bahwa konser akan ramai. Menurut Nanda, NDX bisa menyatukan berbagai kalangan karena elemen dangdut yang sudah mendarah daging di orang Indonesia. “Sama orang kan sering disakiti. Dari orang bahagia sama yang sakit, lebih banyak yang sakit. Apalagi dicampur sama dangdutnya itu, wah udah kayak nasi goreng spesial,” terangnya sambil terkekeh.

NDX

Namun kemunculan mereka dengan hip hop dangdut tak semulus itu. Oleh komunitas hip hop, NDX mengaku sempat dipandang rendah bahkan dicaci maki karena dianggap merusak citra hip hop. Sementara oleh kalangan dandut mereka cukup diterima. Namun di beberapa kasus sempat lagu mereka dinyanyikan ulang tanpa menyertakan kredit apapun. Posisi yang ganjil ini justru makin memperkuat label pencetus hip hop dangdut di NDX. Meski terkesan remeh, populernya NDX ini sebenarnya justu bisa dibaca dengan banyak perspektif menarik.

Kontroversi tentang penerimaan hip hop dangdut misalnya, bisa memunculkan wacana tentang musik dan representasi kelas. Jika menempatkan di konteks masyarakat menengah-bawah, lirik-lirik mereka yang lugas juga bisa dibaca sebagai gambaran bagaimana kepemilikan modal ekonomi dan bagaimana anak muda memandang relasi individu. Motor Ninja misalnya jadi simbol kelas sosial seseorang. Atau fakta bahwa sejak kemunculannya, NDX tidak digubris oleh media musik manapun juga menjadi menarik mengingat betapa besar massa mereka sekarang. Untuk distribusipun mereka hanya mengandalkan dua kanal yaitu Reverbnation dan Youtube. Fakta mengejutkan kami dapat hari itu, ternyata Nanda dan PJR sendiri tidak tahu bahwa lagu-lagu NDX sudah tersedia di Spotify, iTunes bahkan Playstore. “Kita jujur-jujuran nggak tahu sistem kayak gitu,” jawab Nanda.

Dalam berbagai titik silang yang mungkin tidak mereka sadari ini, NDX membangun jalannya sendiri, menemukan panggungnya sendiri. Dalam obrolan sepanjang satu jam ini, NDX yang sering terlihat innocent ini banyak bercerita tentang lagu, perjuangan mereka sampai pendapat mereka tentang harga tanah yang semakin mahal. Simak!

Interview by: Titah Asmaning W.

Photo by: Herlambang Jati

N: Nanda | P: PJR

Bagaimana awalnya kalian kenal dengan hip hop?

N: Sejak SMP. Saat itu kakak saya juga penyanyi hip hop, lalu saya suka. Tapi kalau kakak saya itu hip hopnya hip hop cinta, love song. Tapi kalau saya milih yang berbeda, enak di hip hop dangdut.

NDX kan singkatan dari Nanda Extrem, kira-kira apa yang ekstrim dari kalian?

N: Ekstrimnya dalam arti kami jadi diri sendiri. Katakanlah kan banyak yang menghujat to, “hip hop kok dangdut, merusak hip hop” gitu, tapi menurut saya dangdut itu budaya kita, musik kita. Ya sudah saya suka hip hop dan saya suka dangdut, saya buat perpaduannya.

Sejak dibentuk tahun 2011, kapan kira-kira kalian mulai merasa populer?

N: Mungkin 2016 ya? Sekitaran itu. 2016 awal. Kalau perjuangannya yang lama. Kan dulu kita dari komunitas hip-hop di JNM (Jogja National Museum). Di JNM itu sempat awal-awal kita nggak pernah dibayar, gratis tampilnya.

P: Iya 2016 awal.

Apakah awalnya kalian hip hop oldschool dulu atau dari dulu sudah hip hop dangdut?

N: Dari awal sudah hip hop dangdut. Konsisten. Enak sih. Gimana ya? Enak banget pokoknya, jadi diri sendiri. Mencurahkan perasaan sambil joget-joget (tertawa).

Terus kalau secara deskriptif, menurut kalian hip hop dangdut itu apasih?

N: (berpikir lama) gimana ya… ya kayak NDX.

Emang kalau yang hip hop dangdut selain kalian siapa?

N: Banyak kok, banyak banget hip hop dangdut. Apalagi setelah NDX naik, terus lain-lainnya ikut-ikutan. Yang saya kecewa, pernah di Youtube ada lagu orang lain tapi diupload-nya pakai nama NDX, padahal saya nggak pernah upload di akun lain. Nah yang punya lagu seakan-akan jadi benci sama NDX, dalam arti “kok lagu saya diaku-aku”, padahal aku nggak melakukan itu. Itu yang ngupload biar view-nya banyak, makanya dikasih nama NDX.

Apa yang kalian suka dari hip hop? Sementara apa yang kalian mainkan, dari tema lirik dan musiknya agak jauh dari akar kemunculan hip hop.

N: Gimana ya, enaknya kalau pake hip hop (dangdut) itu nge-rapnya bisa dinadakan juga. Beda dari yang lain, yang lain kan yaudah ngerap cepet-cepet gitu, tapi kalau kita ciri khasnya pake nada.

Tadi kan kamu bilang sering dapat hujatan, bisa diceritain paling parah hujatan yang seperti apa? Dan tanggapanmu gimana?

N: Itu kita dari 2013-2014 udah dicaci maki, soalnya di komunitas yang hip hop dangdut cuma kita. Lainnya oldschool semua kayak underground-an, tapi kan kita tetap jadi diri sendiri. Tetap konsisten, tetap berjuang. Nah terus sampai ada yang nge-dis kita.

Siapa itu?

N: Itu ya juga orang Yogya. Bahkan teman saya sendiri, tapi saya cuekin. Dia sempat minta maaf ke rumah saya. Tak bikinin minum juga, eh tahunya belum lama ini dia bikin band genrenya hip hop dangdut juga. Kemakan omongannya sendiri. Dibilangin enak kok hip hop dangdut (tertawa). Ya kalau dulu NDX di Yogya susah diterima, kalau sekarang menurut saya sudah diterima.

NDX

Tidak diterimanya itu seperti apa?

N: Intinya dibilang kalau di Yogya merusak citra hip hop. Tapi kan kalau kita, wah ini kan Indonesia bukan luar negeri. Gabungin aja, apa adanya. Tapi itu dulu, sekarang bahkan yang dulu oldschool sudah jadi dangdut, sudah ikutan. Berarti kan mereka cuma cari apa yang sekarang laku, nggak membangun dari awal. Nggak ada seninya (terkekeh).

Berarti yang menghujat itu teman-teman komunitas hip hop sendiri?

N: Iya kalau di Yogya, padahal kalau di luar Yogya itu wah malah bahkan di Bojonegoro kita diarak mubeng (keliling) kota, sampai mau nangis rasanya. Duduk sama bupati Bojonegoro, tapi saya heran dulu di Yogya kok begini, tapi kalau di luar Yogya malah jadi kebanggaan. Tapi ya sekarang sudah berubah kok. Sudah diterima. Yang benar pasti menang.  Kayak kemarin pas Gugur Gunung itu selain mas Gufi yang ngundang, mas Juki dari JHF juga mengundang. Rasanya bangga diundang sama JHF, berarti kan sudah diakui.

Kalau menurut kalian pendengar NDX itu siapa aja?

N: Kalangan atas bawah, dari anak kecil umur 4 tahun sampai orang tua umur 68 tahun. Kemarin baru lihat ada video di instagram ada kakek umur 68 tahun benar semua liriknya pas nyanyi lagu NDX di acara mantenan.

Kenapa lirik kalian selalu pakai bahasa Jawa? Nggak takut susah diterima di daerah lain?

N: Kalau soal bahasa, kita mikirnya justru pingin pakai bahasa Jawa terus. Kita ingin memperkenalkan bahasa Jawa ke seluruh dunia. Kayak JHF (Jogja Hip hop Foundation) itu, bisa keliling dunia lewat bahasa Jawa. Kita juga pengennya seperti itu.

Berarti tetap yakin bahwa NDX bisa diterima oleh pendengar non bahasa Jawa?

N: Iya tetap yakin, apalagi sekarang di acara TV itu banyak dangdutan bahasa Jawa.

Di sebuah wawancara Young Lex bilang kalau dia bisa bikin orang yang nggak suka hip hop jadi suka hip hop. Apakah NDX juga melakukan hal yang sama?

N: Ya kita juga pengen seperti itu, pengen membawa orang yang nggak suka hip hop dangdut, jadi suka hip hop dangdut. Ya itu bisa dilihat di dunia maya, coba kepo-kepo aja hastag-nya #NDXakafamilia, ada orang metal, orang hardcore tapi nyanyi NDX semua.

Kalau produksi, yang membuat musik siapa?

N: Itu produser saya, Crazy Gila namanya. Dari awal 2011 tetap dia sampai sekarang. Yang di belakang NDX ya dia itu, Crazy Gila. Jadi kita di rumah genjreng-genjreng dulu direkam di HP baru kasih dia, ini lho kuncinya.

Sempat beredar kabar kalau lagu kalian yang “Sayang” itu plagiat lagu dari Jepang, itu sebenarnya seperti apa?

N: Soal lagu “Sayang”, lagu itu aslinya lagu Jepang “Kiroro Mirai E”. Lagu “Sayang” versi Indonesia itu ciptaannya Anton Obama, yang membahasajawakan dia. Nah terus tahun 2012-2013 saya dengar lagu “Sayang” itu dipopulerkan oleh Om Wawes. Nah lagunya kan utuh seperti “Kiroro Mirai E”, lagunya saya pecah, saya ambil bridge sama reff. Yang “Meh sambat kalih sinten.. sampai Sayang opo koe krungu..” itu saya ambil, saya kasih 3 reff itu. Saya padukan. Tapi saya tidak sengaja, dalam arti tidak mengira kalau lagu itu akan naik. Nah lagu itu saya pecah karena waktu dulu pas sama isi hati saya, eh tahunya sekarang terkenal. Sampai dbawakan Via Vallen di Indosiar. Tapi saya bertanya-tanya kok kreditnya ciptaan Via Vallen, padahal itu “Sayang” versi NDX. Saya ya waduh… itu saya ada fotonya. Kalau pengen saya itu dikasih lah minimal garis miring NDX Rap gitu sudah seneng, nggak usah dikasih apa-apa, nggak usah royalti, kasih nama aja sudah seneng.

NDX

Selama ini lirik lagu kalian kan berkutat di topik personal, cinta, persahabatan, pengkhianatan.  Kepikiran bikin lagu dengan tema lain nggak? Misalnya masalah sosial atau kritik gitu.

N: Kalau itu, kita sempat kepikiran pas pajak dan BBM naik. Tapi tak pikir-pikir nggak usah lah, kita lebih ke cinta aja. Sudah banyak yang mewakili juga kok.

Lagu “Kimcil Kepolen” kayak ngomong susah mendapatkan cinta untuk pemuda pas-pasan. Itu pengalaman pribadi atau gimana?

N: Itu pengalaman pribadi. Ketika saya SMP kelas 2. Ya itu, kan 2010 lagi jaman-jamannya FU sama ninja (merk motor). Kalau nggak pakai itu nggak bisa dapat cewek, saya dulu cuma naik sepeda, susah banget. Sekarang juga masih ada. Tapi sekarang sudah nggak ninja nggak FU, sekarang sudah mobil, besok mungkin pesawat (tertawa).

Gimana NDX melihat remaja-remaja sekarang ngukur cinta kok pakai materi?

N: Apa ya mas, kalau pas mereka berpacaran itu mungkin dipandang orang lain bisa “Woh,  yange FU woh” (wah pacarnya bermotor FU), kasarannya gitu. Tampil mesaranya jadi tambah pede.

Sah-sah aja berarti yang seperti itu?

N: Ya menurutku seharusnya bisa diubah pola pikirnya. Apalagi sekarang sudah 2017. Karena cinta itu sejatinya tidak memandang harta, tapi cinta itu sejatinya rasa aman dan bahagia di saat kita di sampingnya.

Kalian juga sempat meng-cover lagunya Kangen Band, ada alasan khusus kenapa Kangen Band?

N: Itu kan lagu-lagu jaman dulu, itu lagu tahun 2013. Saat itu cuma karena perasaan. Dulu kan identiknya hip hop dangdut itu jarang yang nyiptain lagu sendiri, lebih ke cover lagu. Terus saya punya pikiran lebih baik menciptakan sendiri, lalu sampai sekarang menciptakan sendiri.

Apa yang ingin kalian sampaikan lewat lagu-lagu kalian itu?

N: Kalau soal menyampaikan di dalam lagu mungkin  soal perasaan lah, walaupun kita disakiti, kita tetap berjuang. Intine kulino dilarani, gek wis to ngopo, luweh. (Intinya biasa disakiti, ya sudah kenapa sih, tidak usah dipedulikan).

Sekarang kan kalian punya citra sederhana di panggung, apa nggak pingin sekali-kali mengubah citra jadi hip hop SWAG atau glamor gitu?

N: Nggak pengen, karena yaudah kita jadi kita. Kita tampil apa adanya.

Selama ini lagu-lagu kalian dirilis sendiri ya?

N: Sampai sekarang kalau yang nawari kita gabung ke label Jakartanan sudah banyak, tapi kita belum minat. Masih ingin di indie, soalnya kita takut banyak kontrak nggak jelas, minimal 2 tahun, mana persenannya dikit.

Kalau selama ini distribusi musik kalian gimana?

N: Kita cuma upload di reverbnation, silakan didonwload secara gratiis. Jadi walaupun kita rekamannya bayar, tapi kita pengen nyebarinnya secara gratis karena biar orang-orang yang nggak punya, kalangan bawah biar bisa downnloadnya gratis, biar ikut senang.

Kalau didownload lalu didengarkan sendiri nggak apa-apa, tapi kalau didonwload lalu dibajak untuk dijual gimana?

N: Itu sudah banyak. Yaudah ini Indonesia, Indonesia kan pembajakan banyak banget (tertawa). Nggak masalah, itu promosi gratislah. Itu rejekinya mereka, berbagi rejeki aja. Kita pikirannya gitu aja, nggak usah negatif (tertawa).

Sudah ada rencana bikin album?

N: Soal album itu kan harus ada video klip. Kalau lagu doang kan kesannya kurang oke, nah kita juga pingin bikin video klip. Tapi kalau diitung-itung modalnya banyak banget. Mungkin kalau kita mikir ke belakangnya, mp3 aja sudah dibajak, apalagi video klipnnya. Sekarang masih mikir enaknya gimana. Mungkin kalau soal video klip nanti kalau ada kae opo jenenge (berpikir).. dermawan, donatur (tertawa), kalau ada orang yang suka lalu suruh bikin, wah siap pak! Tapi kalau lagu kami sekarang sudah mencapai 35, kalau album kan nanti tinggal jadiin 1 to, tinggal kasih video klip.

NDX

Lalu selama ini kalau rilis singlenya gimana?

N: Ya cuma upload. Kita itu bahkan nggak tahu kalau ada yang upload NDX di Spotify. Bahkan saya sempat heran ada yang upload di iTunes, padahal katanya harus dengan seijin pencipta lagunya. Saya makanya heran siapa ya ini yang upload. Yang di Spotify juga.. itu gimana sih makainya? Di Playstore itu juga ada, kita nggak tahu.

Di Spotify itu NDX ada albumnya, belum cek berarti? Dan itu tiap lagumu udah diplay ratusan ribu kali, dan musisinya bisa dapat royalti.

N: Belum. Nggak dapat tuh itu mas.

Nggak pingin diurus itu? Ditrack siapa yang upload?

N: Kita itu jujur-jujuran nggak tahu sistem kayak gitu.

Dari kalian dibentuk tahun 2011 sampai sekarang, bisa dibilang kalian jarang diliput media. Jadi grup musik besar tanpa media, apakah sekarang kalian masih menganggap media itu penting?

N: Ya penting juga menurut saya, media bisa bantu promosi juga.

Selama ini kebanyakan kalian tampil di kota mana sih?

N: Jawa Timur—Jawa Tengah. Paling ke barat itu Pemalang sama Purbalingga. Kira-kira satu bulan 6-8 kali, sekarang kita kurangi. Nanti kalau terlalu sering penonton bisa bosen. Mungkin sebulan 3 kali aja, biar penonton kangen. Seperti Slank, kan jarang, tapi sekali main langsung blwer.

Itu emang menyasar pasar disitu atau gimana?

N: Nggak disengaja lah, wong yang ngundang mereka og. Kita nggak pernah kepikiran harus tur kesini, kita malah kalau nggak diundang yaudah di rumah aja. Kalau diundang baru berangkat. Ya kita modalnya dari mana kalau mau tur gitu.

Apa bedanya audiens di Jogja dan kota-kota kecill?

N: Sama aja sih, contohnya saja di FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) kan pada joget semua, ya udah kayak gitu semua.

Kabarnya konser kalian di Jepara kemarin ada yang sampai meninggal ya?

N: Itu kata panitia tiket terjual sampai 20.000, polisi yang jaga cuma 5. Saya itu keluar dari lokasi sampai (menutupi kepala) pakai kerdus Aqua, itu panggung sampai roboh. Kita cuma nyanyi 3 dari 8 lagu, dari opening sudah rusuh, tiap lagu rusuh, yang ketiga itu yang paling parah.

Itu salah satu konser terbesar kalian?

N: Ya itu Jepara paling besar, itu dari berbagai kota datang ke situ. Sudah kayak Slank atau Endank Soekamti. Saya itu pinginnya ya kayak Slank atau Endank Soekamti, pengen penggemarnya itu kumpul jadi satu.

Anggota Familia kira-kira sampai sekarang ada berapa ya?

N: Kalau penikmatnya itu banyak, kalau yang gabung-gabung itu kan mungkin sebagian belum tahu gabungnya gimana. Banyak yang nonton sendiri, berangkat sendiri, ya kita nggak bisa memperkirakan berapa. Banyak pokoknya.

Kalian kan dari Imogiri, kalau skena musik di Imogiri sendiri gimana?

N: Banyak lho, tetangga satu desa saya itu ada dua musisi. Yang satu dulu bantu saya pas video klip  sekarang sudah buat band namanya South Java. Itu genrenya reggae. Terus satu desa juga ada si Bening Ayu, itu sedang di Rising Star RCTI sudah masuk babak duel. Banyak orang luar bilang desa saya desa musisi, desa Jati Sriharjo Imogiri.

Di interviu dengan Tribun kalian bilang ingin beli rumah, sedang harga tanah dan rumah di Yogyakarta ini makin tahun makin mahal. Menurut kalian gimana?

N: Ya kalau kita yakin, apa yang nggak kita bisa. Kalau menanggapi kenaikan harga tanah, sampai heran, tanah yang nyiptain kan Gusti Allah tapi kenapa jualnya mahal. Di Seturan itu saya tanya satu meternya 25 juta. Haduh.. kalau disini (Imogiri) masih murah, pinggir jalan aja 1,5 juta. Seturan itu wah…

Band indie kan hidupnya dari merchandise, kalau NDX gimana?

N: Sekarang pembeli sedikit demi sedikit sudah beralih dari bajakan jadi membeli yang asli dengan desain yang simpel. Kalau yang bajakan kan tulisannya penuh, kalau yang asli kan ada logonya, lebih simpel.

Gimana kalian mengarahkan pembeli untuk beli merchandise yang asli?

N: Saya nggak maksa sih mas, cuma upload foto di instagram, dibeli ya, gitu aja.

Secara visual, menurut kalian ada perbedaan nggak antara fans kalian dengan fans hip hop lain?

N: Ya selain pakai baju familia, style-nya kebanyakan street kayak penggemarnya Endank Soekamti. Pernah Familia Tuban itu ada yang nye-treet naik truk juga. Dari situ saya mulai suka, inceran saya itu yang suka NDX itu lebih ke menengah kebawah. Saya malah seneng Familia yang menengah kebawah.

Kaos kalian kan juga banyak dibajak nih. Tapi dimana-mana yang dibajak itu band besar, berarti kaos yang dibajak kan tanda kebesaran sebuah band. Mengamini itu juga?

N: Iya. Saya nggak pernah merasa dirugikan. Saya malah diuntungkan bajakan kan promosi gratis. Apalagi yang dibajak kan cuma nama-nama band tertinggi, kayak Iwan Fals, atau Slank, berarti kan saya masuk. Alhamdulillah (tertawa).

NDX

Menurut kalian apa band hip hop yang lebih besar dari kalian?

N: Nggak tahu.. (terkekeh).

Nggak tahu atau nggak ada?

N: (Tertawa)

NDX kan basis massanya sudah besar sekali. Kalau bikin konser mengundang NDX sudah pasti ramai lah, nah kalau tiba-tiba pas masa kampanye, NDX diundang partai politik untuk tampil, mau nggak?

N: Kita sudah pernah. Pas pilihan gubernur… eh uduk, opo to kae? Wonosari ki opo? (tertawa)

Bupati

N: Ya pas pemilihan 2015 Desember kemarin. Tapi sekarang nggak tahu, waktu itu soalnya belum ada manager, sekarang udah ada manajer.

Tapi berarti kalian sendiri nggak masalah main di situ?

N: Gimana ya, itu orang yang suka tapi gara-gara partai bisa jadi nggak suka. Pikir-pikir juga, kalau acara EO kan netral.

Baru-baru ini kan Ucok Homicide bikin buku, Young Lex juga kabarnya mau rilis buku, NDX nggak ingin membuat buku juga kah?

N: Kalau kita belum, kalau sudah tua aja. Kita kan masih anak kecil (terkekeh) masih banyak yang tua, yang tua dulu.

#sarapanmusik

PJR:  “Faded” – Alan Walker

N: Aku dangdut, single terbaruku “Ditinggal rabi”, pernah belum mbak?

NDX
NDX

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response