close

[Movie Review] Nightcrawler

movies-ncrawler-103114-videoSixteenByNine540

Sutradara            : Dan Gilroy

Cast                       : Jake Gyllenhaal, Bill Paxton, Rene Russo, Riz Ahmed

Produksi              : Bold Films

Distributor          : Open Road Films, Universal Studios Inc.

Durasi                   : 117 menit

Tahun                   : 2014

movies-ncrawler-103114-videoSixteenByNine540

Suatu malam terjadi perampokan bersenjata di sebuah rumah yang terletak di pemukiman mewah Granada Hills, Los Angeles. Tiga korban ditemukan meregang nyawa bersimbah darah di dalam rumah beserta senjata api yang diduga digunakan pelaku dalam aksinya. Polisi datang beberapa saat setelah kejadian, dan pelaku yang diketahui berjumlah dua orang berhasil melarikan diri.

Fragmen tersebut adalah cuplikan dari salah satu adegan di film thriller neo-noir arahan sutradara kelahiran Inggris, Dan Gilroy yang berjudul Nightcrawler (2014). Sepintas narasi di atas terasa seperti sebuah tajuk berita kriminal yang biasa kita santap lewat media massa. Kriminalitas hampir terjadi setiap hari, kemudian entah kenapa berita kriminal kemudian menjelma menjadi sebuah bahan konsumsi yang menarik di masyarakat. Apapun yang diidentifikasikan orang tentang apa sebabnya hingga kini selalu menjadi objek perdebatan panjang di masyarakat. Dari mulai dalih bahwa berita kriminal membuat kita lebih waspada hingga hipotesis bahwa diam-diam manusia menyukai kekerasan. Lepas dari semua itu, sebenarnya ada hal lebih besar yang ingin disampaikan film ini. Sesuatu yang dekat dengan kita atau bahkan siapapun di belahan dunia manapun yang menjadi konsumen dari produk jurnalistik: manipulasi berita.

Kisah dalam film ini bertumpu pada pria bernama Louis “Lou” Bloom (Jake Gyllenhaal). Seorang pengangguran yang memiliki kecenderungan obsesif sekaligus perangai sociopath—atau psychopath—yang siap menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Seorang anak haram dari golongan ‘generasi y’ yang timbul dari sisi gelap nina bobo American Dream. Kepiawaian akting Gyllenhaal juga menjadi kunci di film ini. Ia tidak tampak seperti seorang pangeran Persia yang perkasa, bukan pula seorang salesman obat rupawan atau detektif berambut klimis, melainkan pria jangkung kurus—Gyllenhaal kehilangan 20 pon berat badannya lewat latihan keras untuk menunjang perannya sebagai Lou yang ‘kelaparan’—yang pandai berbicara. Alkisah kebanyakan pengetahuan dan kemampuan Lou diperoleh secara instan melalui internet. Sepanjang film, coba lihat betapa bergunanya mereka ketika berpadu dengan kurangnya rasa empati yang dimiliki Lou.

Kisah bergulir sampai titik Lou terjun ke dalam dunia jurnalisme dengan menjadi reporter video amatir setelah bertemu dengan Joe Loder (Bill Paxton) pemilik sekaligus reporter dari rumah video “Marcus Mayhem”. Berbekal handycam dan radio scanner yang ia cicil dari hasil mencuri sepeda, Lou merintis karirnya dengan penuh rasa optimis. Lou kembali dipertemukan dengan Nina Romina (Rene Russo) wanita paruh baya yang karirnya sebagai produser acara berita sedang di ujung tanduk. Nina bertindak sebagai atasan sekaligus mentor, menjadikan Lou seorang reporter freelance berita kriminal di sebuah stasiun TV lokal. Kepribadian dan perangai Lou yang meyakinkan—serta kecenderungan ‘oedipal’—secara singkat mampu membuat Nina bertekuk lutut karena tanpa dipungkiri Lou sendiri telah memberinya opsi konkret agar Nina bisa mempertahankan karir cemerlangnya.

Keberhasilan paling gemilang Gilroy dalam film ini adalah bagaimana ia sanggup menampilkan karakter Lou dengan begitu kuatnya untuk mendukung cerita sekaligus menyampaikan pesan dengan sama kuatnya. Hakikat serta etika seorang jurnalis yang seyogyanya berperan sebagai pemberi informasi berdasarkan fakta di lapangan, ia terobos demi keuntungan pribadinya. Lou tidak hanya mewarta, namun juga menjadi aktor dalam pewartaannya tersebut. Dari sinilah penonton kemudian disuguhi pemandangan getir tentang ambiguitas nilai kebenaran sebuah berita. Tujuannya jelas, menggedor keluar sikap skeptis untuk lebih cerdas mengonsumsi berita. Untuk tidak sekedar manggut-manggut dan geleng-geleng. Untuk kembali mempertanyakan: “Apakah yang aku dengar, lihat dan baca hari ini memang apa yang sebernarnya terjadi?”

Hal tersebut juga dirasakan oleh Rick (Riz Ahmed), seorang tunawisma yang direkrut menjadi asisten oleh Lou. Rick jadi orang yang mau tidak mau tiap malam harus menyaksikan ‘kebusukan’ dalam setiap reportase yang dilakukan Lou. Rick tahu sesuatu yang salah sedang terjadi, batas kemanusiaannya diiris-iris dan ia tidak berdaya untuk menghentikannya. Perdebatan dan adu mulut selalu dimenangkan Lou dan hampir tiap malam Rick selalu terancam kehilangan sumber pengisi perutnya. Kecuali jika ia sanggup diam dan menurut perintah Lou.

Ide cerita orisinil yang disampaikan dengan matang menjadikan film ini layak tonton. Meski sebenarnya jika diperhatikan beberapa plotnya masih menyisakan ‘hole’ dan klise-klise bertebaran. Namun kekurangan sepertinya memang bisa tersamarkan dengan baik karena ketegangan demi ketegangan yang tersaji dalam sepak terjang Lou sebagai seorang ‘nightcrawler’ mampu berlangsung secara natural. Perburuan berita, kebut-kebutan malam hari di bawah gemerlap lampu jalanan LA, mayat-mayat berlumuran darah serta dialog antar tokoh yang berlangsung intens jadi unsur artistik tambahan khas film thriller. Tanpa bermaksud mengurangi esensi, film ini tidak menghadirkan ‘twist’ atau unsur ‘mindfuck’ yang membuat dahi berkernyit. Benar-benar film yang sempurna untuk debut sutradara yang awalnya dikenal telah menulis screenplay untuk berbagai film seperti Real Steel, dan The Bourne Legacy.

Film ini bisa menjadi refleksi gamblang mengenai krisis di tubuh jurnalisme media arus utama. Sekaligus merespon kegelisahan mengenai hegemoni ekonomi di balik bualan yang dilakukan media. Siapa pun, dimana pun yang menonton film ini kemudian mengangguk setuju mengenai pesan utamanya, sudah menjadi bukti bahwa kegelisahan sama juga dialami banyak orang di berbagai negara. Baik Lou, Rick dan Nina serta beberapa karakter di film ini dihubungkan oleh sebuah benang merah yaitu motif ekonomi. Motif klasik yang kerap menghadirkan berbagai kisah horror sepanjang sejarah manusia. Proses produksi berita hingga tiba ke layar kaca yang penuh manipulasi di film ini mengingatkan kembali pada apa yang pernah disampaikan oleh Ucu Agustin, sutradara dokumenter “Di Balik Frekuensi”—dokumenter tentang konglomerasi media di Indonesia: “Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli.” Klandestin kaum borjuis dan modern kini berlangsung dengan semakin halus untuk menyamankan posisi. Konglomerasi, hegemoni uang dan kuasa serta lebih jauh perang antar kepentingan sedang berlangsung di ranah frekuensi publik.

Sebelum layar benar-benar menghitam untuk kemudian berganti kebohongan yang lain, ajakan untuk sadar dan skeptis akan tetap berlaku. Ataukah sudah terlalu terlambat untuk menyadari ketika kebohongan dan manipulasi tersebut terlanjur beranak-pinak? Maka anggaplah film ini dongeng seram yang diceritakan untuk membuat kita terjaga dari ‘mimpi orang Amerika’.

Tulisan ini dikirim oleh Satrio Rizki

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response