close

Noise Parade: Bersenandung Lantang Akan Spirit Nostalgia

the brandals 3 (3)
The Brandals
The Brandals

Menjadi saksi bertemunya kembali serangan dari Ode Pinggiran Jakarta

Jika diminta menjelaskan formulasi konser yang menyenangkan menurut pendapat pribadi, saya akan tegas menjawab seperti ini; tempat yang tak terlampau luas, bintang tamu yang memicu ledak koor massal dan tumpukan botol bir yang siap ditenggak sembari melempar lelucon sarkastik ke rekan sejawat. Entah mengapa ketiga faktor di atas seolah menjadi syarat wajib yang seyogyanya dipenuhi agar pertunjukkan berjalan intens; membasahi suasana dengan komunikasi tanpa gemerlip layar gawai. Karena bagaimanapun juga keintiman yang tercipta merupakan hal langka sekaligus momentum apik untuk menikmati jalannya keseluruhan acara. Dan helatan bertajuk Noise Parade membuktikan hipotesa tersebut bukan sekedar basa-basi ucap belaka.

Noise Parade menjadi puncak gelaran berjudul Thursday Noise yang konsisten diadakan oleh Jimi Multhazam, pentolan Morfem dan The Upstairs. Kali ini Yesterday Backyards dipilih sebagai venue pesta keriaan. Letaknya di bilangan Antasari, Jakarta Selatan. Tak jauh dari kawasan Kemang yang tiap malam menebar kemelut asap peraduan. Sejatinya, Yesterday Backyards terdiri atas bar dan kedai kopi yang mempunyai desain minimalis nan berkonsep kontemporer. Di halaman belakang terdapat pelataran berukuran sekitar enam sampai tujuh petak dengan samping kiri kanan berdiri garasi seni yang memajang instalasi terkini. Lalu apabila memasuki area dari pintu samping, Anda bisa mengamati deretan foto American-pop-culture yang berjejer rapi; menegaskan selera sang empunya tempat ke level hippies ibukota.

Menurut jadwal, acara semestinya dimulai tepat pukul tujuh malam. Namun siapa sangka cuaca berubah cukup drastis cenderung tak begitu bersahabat yang mengakibatkan pertunjukkan terpaksa diundur; menunggu sampai keadaan berangsur kondusif sebaik mungkin. Sekitar tiga jam kemudian, pihak panitia memutuskan memulai kembali yang sempat tertunda. Dengan menggandeng line up semacam Sirati Dharma, Bedchamber, Monkey to Millionaire, Morfem sampai The Brandals, saya mampu membayangkan gairah yang bakal meletup ke berbagai sudut kepuasan. Namun karena pertimbangan waktu, penampilan Bedchamber dan Morfem pun urung dilaksanakan.

rumahsakit
rumahsakit

Monkey to Millionaire membuka hangatnya malam dengan dentuman rock-garage yang bernas; riff gitar Wisnu Adji meluncur cepat, cabikan bass yang menyayat tenang serta kuasa lirik yang eksploitatif terdengar meyakinkan. Aksi maksimal mereka ditunjang keberadaan sound yang komprehensif sehingga gerak kaki seirama mengikuti alir nada pun tak mampu ditolak. Total tiga komposisi mereka sajikan penuh energi gigan: “MAN” yang menyeringai ke angkasan, “Summer Rain” yang sedikit melagu haru serta “Parade” yang membahana. Berselang setelahnya rumahsakit sudah bersiap diri. Pionir indie-pop Indonesia ini datang mengajak Rebecca Theodora dari Bite yang berperan menjadi featured-vocal. Sebenarnya saya menunggu aksi mereka menyanyikan “Kuning”. Tapi apa daya keinginan tersebut tinggal berupa angan. Menjelang pergantian petang, yang ditunggu akhirnya tiba juga. Adalah The Brandals yang didaulat sebagai band penutup hajatan Noise Parade. Kehadiran mereka malam itu menjadi yang kedua di muka umum selepas memilih vakum sementara karena kepergian sang drummer, Rully Annash. Sempat kesulitan mengeluarkan performa menawan akibat terkendala urusan sound yang distraktif serta vokal Eka yang kadang terhambat dan tertahan di belakang selaput mikrofon, mereka tetap membabat habis nomor-nomor legendaris laiknya “Obsesi Mesin Kota”, “100 Km/Jam”, “Tipu Jalanan” juga “Awas Polizei”. Nyayian masif, keliaran penonton yang bertarung ke atas panggung, crowdsurfing berjamaah sampai gimmick yang sering terlontar membuat kembalinya The Brandals semakin menguatkan kesan tak terlupakan. Bulu kuduk seketika merinding tatkala menyaksikan betapa militan, total, serta bergairahnya para fans The Brandals yang bertemu sang idola. Sama halnya dengan The Brandals yang terhitung lebih dari empat kali berujar terima kasih atas segala penyematan dukungan; membuat mereka mengambil jalan untuk kembali berkarya lewat musik. Pemandangan tersebut membuat saya berkesimpulan lebih jauh bahwa simbiosis antara band dan fans tak melulu tentang seberapa sering kita menghadiri konsernya ataupun seberapa cepat kita membeli rilisan album terbaru di hari pertama peluncuran. Tetapi hubungan sebenarnya lebih sekedar itu; melibatkan kulminasi emosi yang saling menautkan diri satu sama lain. Maka melihat apa yang sudah dibentuk The Brandals selama bertahun-tahun bisa jadi mereka berhasil merangkul para pendukungnya secara terikat.

Noise Parade membuktikan akan satu hal; kehangatan konser menjadi topik utama yang tak pernah selesai diperbincangkan. Menikmati musik adalah tentang bagaimana kita melebur ke satu spektrum berupa kebersamaan yang ditimbulkan dari rentetan interaksi baik sesama penonton maupun dengan band pengisi. Ketika terdapat sesuatu yang dibawa setelah menyaksikan maka dapat dibilang konser tersebut memberi kesan tersendiri. Walaupun tidak berjalan sesuai rencana yang diawali jatuhnya rintik hujan, band yang terpaksa dikurangi jatah bermainnya, serta pemotongan durasi yang signifikan, nyatanya tidak melenyapkan minat sedikit pun. Karena pada dasarnya keintiman yang diwujudkan telah menutup cela kekurangan di samping menyaksikan kembalinya begundal rock and roll bernama The Brandals. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Event by: GoAhead People – Thursday Noise

Venue: Yesterday Backyards

Date: 19 Agustus 2016

Man of the Match: Tentu saja kembalinya The Brandals!

[yasr_overall_rating size=”small”]

Photo by: Almas Dewantara

Gallery: Noise Parade

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.