close

Pinegrove – Cardinal

Pinegrove – Cardinal

Review overview

WARN!NG Level 8.8

Summary

8.8 Score

Album: Cardinal

Label: Run For Cover Records

Watchful Shot: “Old Friend”, “Aphasia”, “Size Of The Moon”

Terjebak kekacauan  dalam pikiran sendiri adalah pengalaman yang sangat menyiksa. Rasa cemas yang diproduksi oleh otak sering berujung pada mandulnya keberanian untuk memulai hubungan dengan orang baru, mampetnya kemampuan mengekspresikan pikiran, hingga munculnya bayang-bayang traumatis masa lalu. Hal-hal ini selalu berhasil membuat otak terasa akan meledak. Jika tak diredam, bisa-bisa berakhir dengan depresi tanpa ujung.

Tampaknya kekacauan juga terjadi dalam pikiran Evan Stephens Hall. Alih-alih depresi sendirian, ia lebih memilih untuk menarasikan badai yang bertiup dalam benaknya dan mengamplifikasinya dalam kumpulan lagu. Hasilnya brilian. Bersama dengan Pinegrove, ia menelurkan Cardinal yang menjadi salah satu album terbaik di tahun 2016.

Di bawah naungan Run For Cover Records, Pinegrove merilis delapan lagu yang penuh dengan keraguan dan kegugupan menghadapi masa depan akibat berbagai penyesalan masa lalu. Mereka membalutnya dengan alunan country bahagia ala Blood Oranges yang teriris pisau indie-rock sendu macam Turnover dengan emosi yang kadang meledak-ledak seperti TWIABP era awal. Dengan kombinasi macam itu, Pinegrove seakan tengah terapung-apung dalam keputusasaan namun kukuh bertahan hidup dengan sisa-sisa optimisme yang sporadis.

Misalnya saat memulai “Aphasia,” Evan terdengar telah bebas dari biang kerok kebuntuan saluran eksistensi sosialnya lewat “so long Aphasia and the ways it kept me hidden.” Kisah dalam lagu ini berjalan mulus dan sepertinya akan berakhir bahagia. Tapi mendadak di tengah lagu ia berujar lirih “just when I thought I had this pattern sorted out / apparently my ventricles are full of doubt,” yang dilanjutkan dengan erangan keputus-asaan “but if I don’t have you by me then I’ll go underground!”

Aphasia sendiri merupakan penyakit syaraf yang merusak kemampuan berbahasa dan membuat seseorang sulit menemukan kata-kata saat berkomunikasi. Evan menggunakannya sebagai metafora atas ketakutannya tak mampu mengekspresikan diri dengan baik dan akhirnya terjebak dalam kegelisahannya sendiri. Tampaknya hal ini cukup sering menghantuinya karena ia membicarakan tema serupa dalam “Cadmium” meskipun lewat perspektif dan analogi yang berbeda.

Analogi dan metafora yang sederhana nan dalam pada lirik-lirik milik Evan memang menjadi unsur paling menonjol di album ini. Dalam “Size of the Moon” ia meneriakan pertanyaan introspektif yang metaforis “what if we could wake up in five years and things’d be feeling alright?” Rasanya, Evan tengah berandai-andai dirinya bisa lepas dari segala permasalahan tanpa harus menyelesaikan permasalahan itu sendiri.

Masih dalam nomor yang sama, Evan membangun aura nostalgia lewat cara yang dapat menimbulkan pengalaman multi-dimensi. Ia membuat sebuah percakapan imajiner dengan kekasihnya yang dibalut dengan deskripsi ruang “do you wanna dance? / Fine, but do you remember when? / In your living room, when we made some room and moved ourselves around in it?”  Menciptakan imaji visual yang tak membutuhkan bentuk visual apapun untuk mewujudkannya. 

Begitu juga di nomor “Old Friend”. Kali ini ia menarasikan percakapan imajiner kepada dirinya sendiri lewat sebuah pertanyaan introspektif “how come every outcome’s such a comedown?” yang kemudian ia jawab sendiri di ujung lagu “I got too caught up in my own shit/It’s how every outcome’s such a comedown”. Gaya penulisan lirik seperti ini membuat Cardinal lebih seperti kumpulan cerita pendek realis lengkap dengan plot, tokoh, dan dialog yang dinyanyikan.

Ditambah lagi dinamika musik yang dijalankan dalam album ini tidak banyak gaya namun tetap tak mudah ditebak.  Hentakan-hentakan yang diciptakan tidak terikat dengan pola yang rigid. Dari musik yang tenang bahkan hampir senyap, tiba-tiba bisa naik dan meledak-meledak tanpa peringatan. Pinegrove meletakkan ledakan maupun ketenangan dalam nada-nadanya selaras dengan bobot emosi yang dimiliki di setiap bait. Sehingga perbedaan emosi, volume, dan tempo musik lazim terjadi pada kalimat-kalimat yang bersebelahan.

Seperti apa yang mereka lakukan dalam “Cadmium” cara Evan menyanyi dalam verse lagu ini menunjukan proporsi yang seimbang antara bersenandung dan berdongeng lisan lewat penekanan yang berbeda-beda dalam banyak frasa. Dalam reffrain, dua emosi yang berbeda satu sama lain dipadukan untuk menciptakan sebuah kesinambungan. Suara gitar tertahan menebalkan kebingungan yang berkelindan dengan kegelisahan diakhiri dengan ledakan-ledakan dadakan yang singkat dan padat sebagai simbol dari keputus-asaan tak berujung.

Enigma yang diciptakan Pinegrove dalam lagu-lagunya jauh lebih mencuat ketika mereka tampil di panggung. Dalam wawancaranya dengan Sir Wranger-Lot, Evan mengakui dirinya senang untuk mengubah tempo dan dinamika lagu secara spontan ketika tampil langsung, bergantung pada energi yang diberikan penonton. Hal sama yang bisa dirasakan dalam Elsewhere yang baru-baru ini dirilis. Album berisi delapan lagu dari Cardinal dan Everything So Far yang dimainkan dengan dinamika penuh spontanitas dan direkam secara langsung ketika Pinegrove melakukan tur Amerika tahun silam.

Lewat Cardinal, Evan Stephens Hall telah berhasil menjadi psikiater yang baik bagi dirinya sendiri. Tak hanya itu, Pinegrove juga sukses mengkonversi badai dalam kepala Evan menjadi sebuah semesta introspektif yang memiliki banyak kejutan menyenangkan untuk diselami dan ditelusuri oleh para pendengarnya.  [Farras Muhammad / Kontributor]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.