close

Review Album: FSTVLST II

fstvlst

Review overview

WARN!NG Review 7

Summary

7 Score

Label: FSTVLST RECORD PROJECT

Watchful Shot: Gas, Rupa, Hayat, Opus.

Kabar jika FSTVLST hendak mengeluarkan album baru sudah beredar bahkan dua tahun yang lalu ketika mereka merilis lagu “Gas” melalui kanal sosial media mereka. Responsnya tentu baik, bahkan saya ingat sempat berkaca-kaca membaca komentar di laman youtube lagu “Gas” tentang orang-orang yang jatuh dalam hidup, lalu termotivasi, bahkan mendengarkan lagu ini setiap pagi. Musik memang kadang bisa sekuat itu. Di tambah sepak terjang FSTVLST di blantika musik rock lokal, setelah HITS KITSCH (2014) menjadi anthem atas kemarahan dan kemuakan muda-mudi Jogja. Tidak berlebihan rasanya jika album baru FSTVLST menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu kelahirannya tidak hanya oleh festivalist (sebutan fans FSTVLST), tapi juga oleh kalangan penikmat musik rock yang lebih luas.

Waktu berjalan, sesuatu yang dicita-citakan terwujud, FSTVLST II  lahir di tengah segala kondisi yang tidak menentu. “Gas” yang telah dirilis dua tahun lebih dulu, menjadi pembuka untuk album ini. Ketika “Gas” pertama kali masuk ke dalam telinga, hal yang terasa adalah melodi yang segar dan tidak terburu-buru. Hal ini mematahkan asumsi yang ditawarkan oleh judulnya, karena sebelum menyelami liriknya, tentu sah-sah saja membayangkan “Gas” sebagai start akan sengebut “Orang-Orang Di Kerumunan”. Namun ternyata track ini lebih ditempatkan semacam do’a untuk memulai dan menjadi tembang motivasi untuk menjalani hidup sebaik-baiknya.

Selanjutnya track “Rupa” mulai menaikan tempo dan nampaknya juga mulai “serius”. Lihat saja penggalan lirik lagu ini, “jika lapar kenyang adalah ujung perkara / jika kepentingan adalah nada genderang perangnya.” Meski tidak jelas siapa yang lapar dan kenyang, atau siapa yang punya kepentingan. Kita bisa sepakat jika urusan perut, bagi beberapa orang, kerap kali menjadi urusan yang “serius”. Sering kali juga, di tengah geliat kehidupan yang serba tak tentu, perut menjadi kompas politik yang dianggap paling masuk akal.

Apa yang terasa kuat dalam album FSTVLST II adalah upaya untuk merespons fenomena “serius” yang ada di Indonesia secara lebih kontekstual dan cukup lugas, dibanding HITS KITSCH yang berkutat dengan tema besar yang universal dan filosfis. Meski gaya penulisan lirik dari Farid Stevy tetap saja diupayakan semetamorfosis mungkin dan tidak begitu konkret, cukup jelas jika track “Rupa”, “Mesin”, “Telan”, dan “Kamis” adalah upaya merespons kondisi Indonesia terkini.

Track “Mesin” misal menjadi semacam lagu tribut untuk para buruh yang masih terinjak-injak haknya dan tidak terbayar layak upahnya. Mari simak lirik yang cukup dapat memompa keyakinan buruh untuk terus berserikat, “kita bersama adalah roda / kita bersama adalah roda /roda-roda gerigi kecil / berdecit ke kanan menggilas ke kiri / berjarak merindu intim bertaut, / terrakit jadi mesin besar revolusi, revolusi.” Cukup jelas, revolusi nampaknya masih menjadi hal yang dicita-citakan. Lalu “Telan” adalah track dengan lirik apokaliptik bernuansa rock kotor yang dipadukan dengan synth, membuat lagu tentang kritik lingkungan ini cukup dance-able. Juga ada “Kamis” yang merupakan persembahan puitis untuk mereka yang berdiri di bawah payung hitam menagih janji.

Problematika hidup beragama juga hadir melalui “Syarat”, “Vegas” dan “Hayat”. Namun tentu bukan semacam musik religius a la Bimbo. Track-track ini lebih menjadi luapan ungkapan sinis dan satir menyinggung tingkah para pemuka agama dominan yang merasa paling benar. Track “Hayat” misal, secara komikal menyindir mereka yang seakan sudah memiliki tiket selamat dunia akhirat, “HTM ke surga banderol pre-salenya berapa? / konon kabarnya sudah ada banyak calonya / bahkan katanya sudah rilis bintang tamunya / kami sepertinya nunggu jebolannya.” Track ini patut diantisipasi karena bisa saja membuat orang-orang dengan fanatisme agama yang berlebih kebakaran jenggot.

Jika ”Gas” sebagai pembuka FSTVLST II dimaknai sebagai harapan, maka “Opus” adalah aminnya. “Opus” juga adalah sebuah afirmasi jika FSTVLST sudah lebih dewasa. Karena hidup adalah perkara penghayatan perjalanan melintasi waktu, maka orang-orang di dalam FSTVLST juga tentu akan berubah, menjadi dewasa dan menghayati hidup yang lalu. Rasanya menjadi wajar jika album ini tidak banyak melakukan manuver eksperimental seperti yang dilakukan di HITS KITSCH dan terdengar lebih sederhana di setiap komposisinya. Baik secara struktur dan aransemen kita tidak akan menemukan track semacam “Akulah Ibumu” atau “Hal Hal Ini Terjadi” di album ini.

Secara keseluruhan, warna musik di album ini tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya. FSTVLST II memang menjadi semacam sequel dari kemarahan dan kegelisahaan yang sama. Berada di bawah bayang-bayang HITS KITSCH, kendati album ini tidak memberi kejutan-kejutan yang berarti, namun setidaknya melalui album ini FSTVLST berusaha untuk menjaga apinya tetap menyala. Dan FSTVLST II menjadi ucapan terima kasih atas perjalanan panjang FSTVLST yang sudah berjalan lebih dari tujuh belas tahun sejak masih bernama JENNY.

jiwa kita bebas / cerita kita nyata / api kita menyala / kita bersama.(WARN!NG/ Ahmad Fauzi)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.