close

Stompout Fest: Pesta Invasi Perdana Kelompok Penerbang Roket dan Tigapagi di Yogyakarta

kelompok-penerbang-roket-8
Kelompok Penerbang Roket
Kelompok Penerbang Roket

“Susunan penampil yang terbilang perawan, terbukti mampu menarik animo para penonton untuk menyaksikan ketangguhan para punggawa berkaliber asal Kota Jakarta dan Bandung demi misi menggempur langit jogjakarta yang dirundung hujan sepanjang hari”

Digelar sepanjang satu minggu, Stompout Fest hadir kembali meneruskan tradisi sebagai salah satu acara tahunan yang dikenal jamak berdedikasi terhadap kultur musik di Jogjakarta. Dengan mengambil tema besar ‘The Music Should be Enough’, Stompout Fest mencoba menawarkan difusi musik tersebut, sebagai media komunikasi, penyampaian pesan, media perlawanan bahkan sebuah kajian dinamis dan hiburan. Selain Main Event Concert, Stompout Fest memiliki rangkaian acara pembuka mulai dari Record Trade & A Buddy-Buddy Gigs, Diskusi Terbuka dan Film Screening yang diselenggarakan secara berturut-turut pada tanggal 19 hingga 22 September. Festival yang digagas oleh Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) UGM ini, berujung pada tanggal 25 September melalui sebuah pesta huru-hara.

Malam itu keinginan para penikmat musik di Jogjakarta yang selama ini tertahan sejak lama tampaknya terjawab sudah, Kelompok Penerbang Roket dan Tigapagi yang kini semakin dikenal setelah rilisan albumnya yang gencar diganjar pujian akhirnya dapat mendarat di Kota Gudeg tepatnya di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Meskipun kondisi cuaca yang kurang bersahabat serta bersamaan dengan banyak acara di tempat lain, Stompout Fest: Main Event Concert tetap percaya diri menggaungkan komitmen dalam menyajikan sebuah sensasi menikmati komposisi musik beragam dalam satu malam.

Deretan penampil yang jumlahnya cukup padat yaitu sekitar enam band, Stompout Fest: Main Event Concert sudah dimulai sejak gelap menjelang. Batalnya Talking Coasty untuk tampil, mendorong Seahoarse menjadi satu-satunya wakil tuan rumah melanjutkan tonggak unjuk gigi, sekaligus sebagai pembuka yang manis. Penonton yang saat itu masih terbilang masih lenggang sudah harus menerima terjangan rombongan Fuzzy I. Setelah cukup lama tidak beraksi, ditambah lagi tragedi pada Bulan Mei lalu ketika mobil yang mereka kendarai terguling hingga memaksa mereka mengurungkan tampil di Kota Semarang dalam rangkaian Neonatour. Akan tetapi itu semua tak mengalangi kuasa penuh Fuzzy I memecah kesunyian bersama noise rock yang cepat dan ganas, khususnya pada nomor “Naivety” dan “Troglodyte” yang didapuk jadi nomor andalan. Masih dalam rangka promosi mini album perdananya, pada malam itu bahkan Fuzzy I membawakan seluruh nomor yang menjadi bagian dari Neonato.

Gemuruh Fuzzy I diteruskan oleh Sirati Dharma yang tanpa canggung mulus memperagakan rock dengan balutan efek distorsi nan berkelas. Gestur atraktif dari Sirati Dharma yang banyak bercengkrama direspon positif oleh penonton yang mulai tak ragu saling merapat satu sama lain. ketika nomor andalan semacam “Waves” dan “Underpressure Love” dibawakan, berhasil melecut para penonton untuk ikut sing a long seraya body surfing disusul gelak tawa diantara mereka.

Zzuf
Zzuf

Bersama dengan Fuzzy I dan Sirati Dharma, Zzuf yang juga bernaung di bawah Leeds Records, menjadi grup yang juga tampil perdana di depan publik Jogjakarta. Zzuf merupakan grup berkomando salah satu punggawa yang familiar bersama band-band kawakan semacam The Adams, Morfem, The Upstairs dan The Porno. Tapi kali ini Pandu Fuztoni bertugas menjadi pemetik dawai gitar sekaligus vokalis penuh. Zzuf yang ditengarai merupakan proyek idaman Pandu dalam bermusik, percaya diri mengusung alternative rock sebagai nafas milik Zzuf.

Dengan membagi setlist ke dalam beberapa bagian, dan diramaikan dengan nomor lama seperti “Fubar” sebagai pembuka dan ditutup oleh “Tonight”, meski terlihat kewalahan, Zzuf tetap mampu meladeni target yang mereka siapkan sendiri. Kesempatan berharga ini coba dimaksimalkan dengan mengenalkan jati diri mereka yang nantinya akan didapati dalam debut album perdana yang mungkin akan dirilis dalam waktu dekat.

Bermodal tata panggung sederhana dengan tata lampu redup menyala di kedua sisi, Tigapagi tetap syahdu membius keheningan malam dengan lantunan nada-nada pilu nan menyayat hati. Kemegahan Tigapagi terasa di setiap nomor yang dilantunkan bersama iringan instrumen pendukung seperti biola, cello, kecapi dan suling. Roekmana’s Repetoire sangat terasa menjadi karya monumental tatkala lantunannya mampu menghiptonis para penonton yang duduk rapi disegala sudut panggung.

Tigapagi
Tigapagi

Sejak nada pertama penonton dibawa hanyut oleh rentetan kisah yang coba dinarasikan oleh TIgapagi, terlebih ketika “Alang-alang” berkumandang, memicu senandung serentak dari para penonton mengimbangi vocal dari Sigit Agung Pramudita. Menjelang nomor sarat makna seperti “Sembojan”, Tigapagi mendedikasikan nomor tersebut kepada perjuangan para petani di Kulon Progo yang masih terus berjuang melawan kesewenang-wenangan pemangku kekuasaan beserta korporasi. Pada malam itu, setidaknya Tigapagi membawakan sekitar delapan nomor yang mungkin tidak terasa meski telah satu jam menikmati pesona harmonisasi oleh kelompok asal Kota Kembang tersebut.

Tampaknya performa Kelompok Penerbang Roket adalah hidangan utama yang sangat dinanti, waktu menunjukan pukul 23.00 WIB seketika sekumpulan pemuda berambut gondrong merapat ke depan panggung setelah Tigapagi memainkan not terakhirnya. Meski hingga penampil pemuncak Gedung PKKH UGM tak kunjung penuh sesak bahkan tidak sampai setengah area terisi, seruan kepada trio rock terpanas asal Ibu Kota yang berfondasikan John Paul Patton alias Coki, Rey Marshall dan Viki Vikranta untuk segera mengokupasi panggung bergema keras. Lampu merah temaram menandai masuknya masing-masing personil untuk menjalankan misi menggempur Jogjakarta pada lawatan perdananya. “Anjing Jalanan” tak tanggung-tanggung langsung menciptakan koor massal, yang sepertinya tidak diduga oleh panitia yang terlihat kewalahan mengatur penonton yang merangsak hingga ke atas panggung.

Kelompok Penerbang Roket
Kelompok Penerbang Roket

Membawakan repertoar dari dua albumnya yaitu Teriakan Bocah dan HAAI yang rilis pada 2015 silam, tampak antusiasme penonton terlecut meledak maksimal oleh performa Kelompok Penerbang Roket. Tata panggung yang kurang tepat memaksimalkan ruang yang ada, yaitu ruang panggung permanen yang diketahui memiliki dua level, memaksa para penonton khususnya perempuan tidak dapat menyaksikan secara jelas karena mesti tertutup penonton yang berbondong-bondong naik ke panggung level pertama. Akan tetapi rock tetap lah rock, terlebih ini adalah Kelompok Penerbang Roket yang dikenal ugal-ugalan dalam aksinya. Coki yang rupawan harus diakui merupakan nilai tambah bagi band ini, Coki yang tak henti –henti diteriakan oleh para pemujanya menjadi fenomena tersendiri, khususnya para perempuan yang rela berjibaku dikepulan asap dan aroma tak sedap.

Dan sepertinya Kelompok Penerbang Roket tahu bagaimana mengelola gempuran para penonton, sebab nomor breakdown macam “Cekipe” menjadi satu-satunya momen menyiapkan enerji kembali sebelum akhirnya “Mati Muda” didaulat sebagai ujung tombak kebringasan Kelompok Penerbang Roket yang memicu baku hantam keriangan para penonton. Meski diakhiri dengan riuh tepuk tangan bersama sorak permintaan encore “We want more! We want more!” dari para penonton yang hela nafasnya telah tersengal-sengal, tampaknya tak mampu membuat Kelompok Penerbang Roket untuk setidaknya memainkan satu nomor lagi.

Secara keseluruhan Stompout Fest: Main Event Concert cukup berhasil memberikan sebuah sajian berkelas kepada publik Jogjakarta. Alih-alih mencoba menyajikan susunan penampil dengan beragam macam, dengan harapan akan dapat menarik berbagai lapisan penikmat musik, namun harapan itu tampaknya tak semulus semestinya, sebab sangat terasa ketika transisi satu genre ke genre lainnya menjadi faktor yang kurang nyaman di telinga dan mata. Ditambah lagi tata panggung serta sound system yang terlalu minimalis serta kondisi cuaca yang kurang bersahabat, lalu bersamaan dengan akhir pekan yang padat acara, mungkin karena menjelang ujian disebagian kampus, dirasa hal-hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi. Tapi semua itu akan terbayar tatkala dapat menikmati sensasi menikmati komposisi musik dari penampil yang masih perawan dan anggap saja impor sebab didatangkan dari kota lain, dan tentunya dapat disimak dalam satu malam. Mesti diakui ini merupakan sebuah prestasi bagi para penggagasnya. Semoga semakin garang dan dewasa di edisi berikutnya! [WARN!NG/Dadan Ramadhan]

Gallery –> Stomp Out Fest 2016

Event by              : Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) UGM

Date                      : 25 September 2016

Venue                  : Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM

Man of the Match           : koor massal penonton yang menggila disegala penjuru panggung ketika “Mati Muda” membahana sekaligus direspon sing a long riuh dengan kepalan tangan lantang mengudara!

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.