close

[Album Review] The Flaming Lips – With a Little Help From My Fwends

WithALittleHelpFromMyFwends

The Flaming Lips – With a Little Help From My Fwends

Warner Bros.

Watchful Shot : Lucy in the Sky Diamonds – She’s Leaving Home – Lonely Rita

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

WithALittleHelpFromMyFwends
Sebuah panggung berukuran sekitar lima kali tujuh meter berdiri dengan minimalisnya di pelataran halaman parkir mobil studio Jimmy Kimmel. Terdapat dekorasi bermotif aurora; semacam selang tipis yang disusun padat secara linier ke bawah. Tampak dari barang tersebut terpancarkan kelap-kelip lampu bermacam warna. Di atas panggung sudah berdiri Wayne Coyne dan Derek Brown, yang berdandan mengenakan kostum magnet terbalik; mengikat seperti bayi kembar siam. Michael Ivins serta Steven Drozd berada tak jauh dari mereka, yang juga memakai pernak-pernik unik laiknya dua personil di depannya. Mereka The Flaming Lips. Dan pada senja itu akan tampil membawakan “With a Little Help from My Friends” dari album terbaru mereka With a Little Help from My Fwends.

Album teranyar unit psikadelia rock Oklahoma ini berbicara mengenai The Beatles. Tepatnya karya legenda bertajuk Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band. Sebuah mahakarya dari anak-anak imut London yang dirilis tahun 1967 silam. Dengan With a Little Help from My Fwends, The Flaming Lips mengajak turut serta para pendengar untuk masuk ke dunia artsy mereka. Dan tentu saja membawa kita ke alam bawah sadar bernama kecanduan.

Terdapat tiga belas buah lagu The Beatles di album ini. Semua diambil dan didaur ulang dari Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band. Dalam pengerjaannya, The Flaming Lips menggunakan konsep kolaborasi bersama beberapa artis, yang sudah mereka lakukan setahun silam saat The Flaming Lips and Heady Fwends muncul ke permukaan. Nama-nama Phantogram, My Morning Jacket, Tegan and Sara, sampai Miley Cyrus (saya ulangi sekali lagi; Miley Cyrus) menjadi kolaborator aksi Wayne Coyne cs.

Berbicara mengenai Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band adalah saatnya kita berbicara mengenai labirin yang tersusun atas harapan, penghancuran dan impian. Berbagai pesan jamak tentang kehidupan disampaikan dengan lapisan-lapisan genre musik beragam. Dan kali ini The Flaming Lips hadir untuk menceritakannya kembali berlandaskan kemegahan.

Membuka perjalanan dengan keramaian bersama My Morning Jacket, putra-putra kebanggan Oklahoma ini membentuk “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band” semakin semarak. Meski ada keriaan di Planet Pepper’s, Jim James maupun Coyne sepakat: mari mabuk bersama-sama tanpa harus terpampang rasa duka. “With a Little Help from My Friends” jadi awal perjumpaan di dunia yang subversif. Dimana alunan vokal halus Ringo Starr tergantikan oleh kelantangan suara Coyne. Namun tak ada kehilangan dari sisi sentimentil lagu ini. Space-sound yang dihasilkan Black Pus menimpali ruang bebunyian rock canggung dari Autumn Defense. Yang patut disimak selanjutnya adalah aksi Miley Cyrus dalam membawakan surat di “Lucy in the Sky With Diamonds”. Versi aslinya: selama tiga menit Lennon bernyanyi secara astral. Memenuhi jarak kehampaan yang berujung kerinduan di titik klimaks irama refrain. Walhasil, di bentuk barunya “Lucy in the Sky With Diamonds” terdengar penuh gebyar pemujaan. Psikadelia mapan milik The Flaming Lips beradu bersama altar suara Miley yang mengawang ke “sky with diamonds” imajinernya sendiri. Nomor sendu kembali hadir lewat “She’s Leaving Home”.

The Flaming Lips menyulap enigma ini penuh distorsi bariton Coyne yang ditutupi gesekan neo-psikedalia milik Derek. Kunjungan tamu Phantogram menambah kesan bahwa lagu ini memang sangat berwarna.Getaran elektrik dari mesin synth Sarah Barthel dan Josh Carter seolah tak cukup sehingga Julianna Barwick hadir membawa kemasan ambient-folk yang keluar bersama improvisasi a la avant-garde. Maka kita akan mengerti seberapa besar kadar ‘keberatan’ lagu ini. Genjatan progresif hadir untuk “Being for the Benefit of Mr. Kite”. Lagu yang diaransemen juga oleh Jamie Cullum ini digubah sedemikian rupa dengan kadar proporsi art prog-rock hasil negosiasi Maynard Jamees Keenan. Dibumbuhi sedikit racun eksperimental dari Puscifer sampai berhenti di satu titik: menaikkan nilai tawar The Flaming Lips ke religiusitas Genesis. Mencoba untuk berujar romantisme bagi Coyne adalah sebuah ilusi. Namun “Within You Without You” merusak capaian pribadinya. Suara vokalnya lirih—berupaya tegar di tengah perpisahan dan bayangan mengawal jalannya intuisi pop aneh Birdflower. Walhasil, “We were talking about the love that’s gone so cold” memang benar adanya. Tegan and Sara datang di waktu yang tepat untuk “Lovely Rita”. Pengkultusan ajakan Lips dalam memadu-padankan sebuah synthpop dan alt-rock khas Stardeath and White Dwarfs menghasilkan ramuan ekstrak sintesis serenyah psikadelik yang penuh uji coba.

The Flaming Lips adalah rekayasa genetik. Musikalitas mereka selalu membuat para pendengar seperti melahap amphitamin dengan resep kontradiktif; bingung dan melayang. Tidak heran apabila mereka berani mengubah salah satu karya terhebat yang pernah muncul di permukaan bumi. Dan efeknya? Teler tiada tara. [Muhammad Faisal]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response